Jumat, 14 Desember 2007

CERPEN AMATIR

Cerpen I
Surat Ibu Ina

Cuaca siang itu menyayat kulit perempuan paras cantik, Vina Pertana. Ingin rasanya berhenti sejenak di tengah perjalanan menuju tempat kontrakan. Namun, karena keadaan yang mendesak, perempuan yang berusia 19 tahun ini melanjutkan langkahnya. Ia ingin cepat-cepat sampai....

...Matahari mulai menyembunyikan fisiknya. Sore itu, Vina heran melihat ibunya yang tidak bangun-bangun. Biasanya setelah minum obat, ibunya akan terbangun dua jam kemudian....

...Perlahan-lahan Vina mulai membuka mata. Ia melihat sekeliling ruangan yang dilengkapi peralatan medis. Sekilas, dipikirannya terlintas, aku berada di rumah sakit akibat disenggol motor. Selanjutnya, Vina terkejut melihat Sari dan Tedi berdiri dihadapannya. Keduanya tersenyum simpul dan berkata, kamu jangan memikirkan apapun ya. Kamu sedang sakit sekarang ini. Kamu memerlukan perawatan yang sangat lama. Istirahat ya nak....

...Pancaran kebahagian menghiasi putri cantik berkulit putih, Vina. Seharian penuh keluarga ini menjalankan rekreasi. Wajar saja bila tubuh Vina letih. Sesampainya di rumah, Vina lari masuk kamar. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan. Ia terbangun dan membuka daun pintu. Ternyata, Tedi dan Sari yang mengetuk....

...Tulisan tangan dalam kertas putih itu adalah Vina bukan anak kandung Tedi dan Sari. Keduanya hanya mengadopsi anak Ina. Ina berjuang melawan kesengsaraan, berjuang melawan kehidupan yang penuh lika-liku. Ina tidak mau kemelaratan yang dirasakannya juga dirasakan Vina....
Ingin Tahu Cerita Selengkapnya?


Cerpen II
Namaku Tantri

Tantri demikian namaku yang berusia 28 tahun. Menurut beberapa pria postur tubuhku aduhai, bagaikan lekukan gitar. Berat badan dan tinggiku sangat proporsional. Rambutku ikal sebahu, warnanya kemerah-merahan. Sekretaris profesiku yang berkantor di Jakarta. Sebagai sekretaris, tentunya aku diwajibkan menggunakan rok. Dandananku pun harus disesuaikan, sedikit menor. Padahal aku paling anti semua itu, apalagi rok mini...

...Desiran ombak terdengar di malam hari. Tiupan angin malam yang dingin menyapu tubuhku. Menggigil aku rasakan sejenak. Asmara memeluk tubuhku yang sedang duduk di teras cottage. Sesaat tubuhku hangat. Tak lama kemudian, dingin menyapaku. Tak kuat aku masuk ruangan. Di dalam ruangan yang bercat putih itu, aku dan Asmara mereview kenangan yang telah dilewati selama ini. Tiba-tiba tubuhku kembali ditiup oleh angin yang menusuk rongga darahku. Dingin dan dingin inilah yang aku rasakan kembali. Cuaca ini juga dirasakan Asmara. Maklum saja saat itu gerimis mulai membasahi kaca-kaca penginapan sekitar. Udara itu bagaikan salju untukku. Aku lari ke dalam kamar. Mengambil selimut tebal. Begitujuga dengan Asmara. Aku melihat Asmara tak kuat berjalan. Buktinya, jalannya tertatih-tatih, terjinjit-jinjit saking tidak tahan dengan dingin yang menyelimuti ruangan...

...Aku terlena tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya menolak kehangatan bibirnya itu. Tapi, makin bibirnya menempel di bibirku, hatiku makin bergetar dan makin terlena. Kembali ia melakukan hal yang sama untukku. Di kamar yang tidak begitu luas itu menjadi saksi percintaan ini. Dan, aku pasrah dengan tindakan selanjutnya yang dilakukan Asmara. Makin menggebu-gebu cintaku ini. Akhirnya...

...Dia kembali berjanji untuk menikah denganku ini. Namun, apa dayaku sebagai perempuan. Aku hanya bisa meluncurkan perkataan demi perkataan untuk menagih ucapan manis itu. Setiap kali aku tuturkan niat suci dan kebahagiaan ini, Asmara hanya mengucapkan, jika aku sudah janji, aku akan menepatinya. Pasti. Mohon kesabarannya...

...Di rumah, aku hanya bisa terdiam. Aku termenung. Terhenyak. Memikirkan hal yang baru saja ku lihat. Inilah yang aku rasakan. Sampai-sampai aku tidak bisa tidur. Aku tidak habis pikir, kenapa Asmara tega melukai hatiku ini. Saking memikirkan perihal ini, aku sakit. Dan, harus dirawat di rumah sakit selama empat hari. Kata dokter, aku harus banyak istirahat dan jangan banyak berpikir. Singkatnya, nama Asmara yang aku dambakan itu harus aku hilangkan. Aku coreng namanya. Aku hapus sebersih-bersihnya...

...Kejadian itu membuat diriku trauma dengan pria. Sungguh syok yang mendalam. Sampai-sampai aku mempunyai keinginan untuk menepiskan kisah cintaku dengan pria lain. Bila ada seorang pria yang ingin dekat, apalagi ingin mendapatkan hatiku, akan aku tolak. Aku tak percaya lagi dengan yang namanya laki-laki. Pokoknya semua laki-laki aku benci...

...Waktu berlalu cepat. Setahun sudah aku melewati masa krisis tangis. Setahun itu pula aku konsentrasi dengan pekerjaanku. Sedang giat-giatnya melaksanakan tugas kantor, tiba-tiba aku bertemu dengan mitra. Aku tidak menduga ternyata mitra tadi membawa seorang teman pria. Perkenalan antara aku dan dia pun terjadi. Dia menyebutkan identitasnya. Namanya Hendi. Usianya 32 tahun...

...Awalnya, aku cuek hanya kenal begitu saja. Namun entah kenapa, Hendi mengirimkan sebuah pesan ke handphone ku ini. Isinya, ia ingin kenal aku lebih jauh lagi. Aku tidak menanggapi pesan sms tadi. Aku hiraukan. Aku tidak ingin peristiwa naas terulang kembali, kesedihan yang membuat diriku ini trauma dengan laki-laki. Makin aku hiraukan Hendi, sepertinya ia makin mengejarku dan memberikan perhatian sedikit demi sedikit...

...Betapa terkejutnya aku ketika itu ia menyatakan cintanya untukku. Ia serius akan memberikan kasih sayang untukku. Ia tidak akan memainkan wanita. Dan, ia pun serius untuk menjalani rumah tangga denganku. Aku tahu perkataan yang diluncurkan Hendi memang serius. Hal ini aku lihat dari wajahnya yang menunggu jawabanku ini. Aku tidak menjawab. Aku terdiam. Dan aku pun teringat dengan ingatan pahit Asmara. Aku hanya mengatakan kepada Hendi, tolong jangan kecewakan aku. Aku mohon untuk saat ini. Jangan ganggu aku dengan cinta...

...Singkatnya, Hendi ingin mengetahui kenapa aku trauma dengan pria. Ia bertanya dan bertanya. Semakin ia bertanya, mulutku makin terkunci. Hingga ia pun pasrah dengan tindakan dan sikap yang aku jalani. Sekali lagi, sifat-sifatnya makin baik. Sepertinya ia memang sangat serius denganku...

...Ketika aku sedang membuka kisah cinta dengan Hendi yang mengarah masa depan, tiba-tiba Tuhan berkehendak lain. Pukul 22.00, telepon seluler ku berbunyi. Tertera nomor rumah Hendi. Aku menerima kabar duka. Pihak keluarganya mengatakan bahwa Hendi saat ini sedang ada di rumah sakit. Ia kritis akibat kecelakaan dari kendaraan roda empat yang dikemudikannya. Aku syok dengar kabar yang demikian ini. Sepuluh menit kemudian ketika aku beranjak keluar rumah, telepon genggamku kembali berdering. Terdengar suara yang terbata-bata dengan diiringi tangis mengatakan, Hendi meninggal dunia. Butiran air mataku tak terbendung. Menetes dengan deras. Tubuhku drop tak berdaya. Aku tarik nafas yang sedalam-dalamnya sembari mengeluarkan lelehan air mata. Tidak!!!...

...Tak terasa waktu berjalan cepat. Setahun berlalu. Selama itulah rasa dan jiwaku mengenai cinta seakan punah. Selepas Hendi dipanggil Yang Maha Kuasa, tak ada lagi rasa romantis yang tumbuh di hatiku...

...Getaran cinta kembali bersemi ketika aku berkenalan dengan pria yang bernama...



Pecinta www.abdi-kurniawan.blogspot.com

Anda ingin tahu kisah selebritis yang pernah aku wawancara atau pun Cerpen Amatir yang aku rangkai? Silakan kirimkan alamat email Anda ke komentar.... (Aku akan membalas keinginan Anda)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

NGEHE LOE